Jumat, 17 Oktober 2014

Karya Tulis Candi Borobudur



BAB I
PENDAHULUAN

A.         LATAR BELAKANG MASALAH


Candi Borobudur terletak di Desa Candi Borobudur, Kecamatan Candi Borobudur, Kabupaten Magelang Jawa Tengah  dan di kelilingi beberapa dusun antara lain Bumi Segoro, Sabreng, Gopala, Jawahan, Barepan, Ngakarak, Kelan, Janan dan Gendingan.
Pada zaman dahulu pulau Jawa terapung-apung ditengah lautan oleh karena harus dipaku pada pusat bumi agar dapat dihuni manusia. Paku yang sangat besar itu kini menjadi sebuah gunung yang terletak di Kota Magelang yaitu Gunung Tidar. Disebelah Selatan Gunung Tidar Kira-kira jarak 15 Km terdapat Candi Borobudur yang terletak di daratan Kedu hampir seluruhnya dilingkari Penggunungan di sebelah Timur terdapat Gunung Merapi itu setiap 2 atau 3 Tahun terdengar letusan-letusan yang menandakan masih aktif dalam kegiatannya. Sisi Barat Laut terdapat Gunung Sumbing dan Sendoro. Juga di sebelah Selatan yang membujur dari Timur ke Barat terdapat Penggunungan Menoreh oleh karna itu puncak-puncak penggunungan ini banyak yang runcing bagai menara maka penggunungan ini dinamakan penggunungan Menoreh.
Candi Borobudur tidak mempunyai bilik ataupun ruangan didalamnya oleh karena itu tidak dapat berfungsi sepenuhnya sebagai Candi. Maka lebih tepatnya kiranya kalau bangunan itu dianggap sebagai bangunan ziarah dan bukan sebagai tempat pemujaan. Sesungguhnyalah ada jejang–jejang dan lorong-lorong dimaksudkan sebagai pengantar serta pemandu para peziarah untuk menuju ke puncak melalui jalan keliling dari satu tingkat ketingkat berikutnya.
Bangunan-Bangunan kuno yang berasal dari jaman purba sejarah Indonesia (Permulaan tarik Masehi sampai akhir abad ke 15) Biasanya disebut Candi Sebagian besar Candi-candi itu tidak diketahui nama aslinya  Candi-candi memang harus ditemukan dahulu, sebelum dimasukan kedalam khasanah pusaka budaya kita. Juga Banyak Candi-candi yang diberi nama menurut candinya. Hanya satu dua Candi sajalah yang masih tetap menyimpan nama aslinya.

B.         PEMBATASAN MASALAH

Pada Pembatasan Masalah kali ini ada 3 hal yang akan penulis uraikan antara lain :
1.         Sejarah Candi Borobudur
2.        Bentuk Bentuk Candi Borobudur
3.        Arti Nama Candi Borobudur
4.        Penyelamatan Candi Borobudur

C.         METODE PENGUMPULAN DATA

Untuk Metode Pengumpulan data Penulis melakukan pengamatan secara langsung terhadap objek tersebut. Dan Membeli buku sejarah Candi Borobudur di Perpustakaan Candi Borobudur.


BAB II
PENGURAIAN

A.         SEJARAH CANDI BOROBUDUR

Candi Borobudur terletak di Desa Candi Borobudur, kecamatan Candi Borobudur, kabupaten Magelang Jawa Tengah  dan di kelilingi beberapa dusun antara lain Bumi Segoro, Sabreng, Gopala, Jawahan, Barepan, Ngakarak, Kelan, Janan dan Gendingan.
Pada Zaman Dahulu pulau jawa terapung-apung ditengah lautan oleh karena harus dipaku pada pusat bumi agar dapat dihuni manusia. Paku yang sangat besar itu kini menjadi sebuah Gunung yang terletak di Kota Magelang yaitu Gunung Tidar. Disebelah Selatan Gunung Tidar Kira-kira jarak 15 Km terdapat Candi Borobudur yang terletak di daratan Kedu hampir seluruhnya dilingkari Penggunungan di sebelah Timur terdapat Gunung Merapi itu setiap 2 atau 3 Tahun terdengar letusan-letusan yang menandakan masih aktif dalam kegiatannya. Sisi Barat Laut terdapat Gunung Sumbing dan Sendoro. Juga di sebelah Selatan yang membujur dari Timur ke Barat terdapat Penggunungan Menoreh oleh karna itu puncak-puncak Penggunungan ini banyak yang runcing bagai menara maka penggunungan ini dinamakan penggunungan Menoreh.
Dilihat dari Candi Borobudur puncak-puncak penggunungan menorah serupa dengan seorang yang sedang terlentang diatas penggunungan tersebut. Karna itulah ada cerita rakyat yang menjelaskan bahwa bagian dari puncak penggunungan yang serupa dengan orang tidur itu adalah Gunadharma, yaitu ahli bangunan yang berhasil membuat Candi Borobudur. Dataran Kedu  dialiri oleh dua sungai besar yaitu sungai Progo dan sungai elo yang akhirnya menyatu menjadi sungai Progo dan mengalir keselatan menuju Samudra Hindia.
(Dr. Soekmono, Pustaka Jaya 1981)
Sampai sekarang belum pernah ditemukan sumber-sumber tertulis yang menyebut bila nama Candi Borobudur itu dibangun senhingga secara pasti tidak dapat ditentukan usianya. Beberapa bukti telah ditemukan oleh para ahli untuk menentukan usia dari Bangunan Candi Borobudur itu pada bagian kaki Candi Borobudur yang tertutup terdapat tulisan singkat berbahasa sanskerta dengan huruf Kawi. Dengan membandingkan bentuk huruf-huruf tersebut dengan perasasti-perasasti bertarik yang ada di Indonesia.
Maka sementara sarjana berpendapat bahwa candi Borobudur dibangun sekitar tahun 800 Masehi.Pada abad itu di Jawa Tengah berkuasa Raja-raja dari Wangsa Syailendra yang menganut agama Budha Mahayana sehingga dapatlah dikatakan bahwa Borobudur bersifat agama budha Mahayana itu ada hubungannya dengan Syailendra.








B.         BENTUK-BENTUK CANDI BOROBUDUR

Candi Borobudur tidak mempunyai bilik ataupun ruangan didalamnya oleh karena itu tidak dapat berfungsi sepenuhnya sebagai Candi. Maka lebih tepatnya kiranya kalau bangunan itu dianggap sebagai bangunan ziarah dan bukan sebagai tempat pemujaan.Sesungguhnyalah ada jejang –jejang dan lorong-lorong dimaksudkan sebagai pengantar serta pemandu para perziarah untuk menuju ke puncak melalui jalan keliling dari satu tingkat ketingkat berikutnya.
Perjalanan setingkat demi setingkat sesuai dengan aliran Budha yang memang sangat mementingkan adanya tingkatan dalam persiapan mental para penganutnya yang setia. Melalui Tingkatan-tingkatan itulah tujuan akhir perjalanan manusia dapat tercapai yaitu terlepasnya secara mutlak dari segi ikatan duniawi dan dapat bebas secara mutlak dari kelahiran kembali.
Adapun tingkatan-tingkatan itu pada dasarnya dapat pula diterapkan pembagian alam semesta menjadi 3 Dunia sebagai berikut :

Dunia Paling Bawah
Kamadhatu : Atau dunia Hasrat. Dalam tindakan ini manusia masih terikat pada hasrat.Relief ini terdapat pada kaki Candi Bangunan Asli.

Dunia Yang Paling Tinggi
Rupadhatu : Atau dunia Rupa. Manusia telah meninggalkan segala Hasratnya tetapi masih terikat pada nama dan rupa. Bagian ini terdapat pada  langkah 1 sampai 5.

Dunia Yang Tinggi
Arupadhatu : Atau dunia tanpa rupa,dalam tindakan ini sudah tidak ada sama sekali nama ataupun Rupa. Manusia telah bebas sama sekali dan telah memutuskan untuk selama lamanya segala ikatan kepada dunia Fana.
Bangunan Candi Borobudur berbentuk limas berundak dan apabila dilihat dari atas merupakan bujur sangkar. Bangunan Candi Borobudur ada 10 tingkat 3 tingkat yang paling atas berbentuk lingkaran dengan 3 teras :
-          Teras Pertama terdapat     : 32 Setupa Berlubang
-          Teras Kedua terdapat                 : 24 Setupa Berlubang
-          Teras Ketiga terdapat                 : 16 Setupa Berlubang
-          Jumlah Keseluruhan                   : 72 Setupa Berlubang

Masing-masing setupa terdapat patung Budha ditengah-tengah setupa tersebut terdapat setupa induk yang merupakan mahkota dari bangunan Candi Borobudur. Stupa induk bergaris tengah 9,90 meter tinggi sampai bagian bawah pinakel 7 meter Drs. Sudirman dalam bukunya Borobudur Salah Satu Keajaiban dunia, menulis bahwa diatas puncak pinakelnya dahulu diberi (Catta) bertingkat 3 (Sekarang tidak ada lagi).
Stupa induk ini tertutup rapat sehingga orang tidak dapat melihat didalamnya. Didalamnya terdapat kamar (Ruangan) yang sekarang tidak berisi. Ada yang mengatakan bahwa ruangan itu untuk tempat menyimpan arca/relief, tapi pendapat itu masih diragukan kebenarannya karena sewaktu diadakan penyelidikan mengenai isi dari setupa induk oleh residen Kedu Hartman dalam tahun 1842 sama sekali tidak dibuat laporan tertulis sehingga semua pendapat mengenai isi setupa induk itu hanya dugaan belaka. Lebar dan Panjang Candi Borobudur 123 Meter.
Keliling Candi Borobudur  : 492 Meter
Tinggi Candi Borobudur    : 34, 5 Meter
Batu Andesit yang digunakan untuk bangunan Candi Borobudur Sebanyak 55.000 m
stupa_borobudur.jpg









C.         ARTI NAMA CANDI BOROBUDUR

Bangunan-Bangunan kuno yang berasal dari jaman purba sejarah Indonesia (Permulaan tarikh Masehi sampai akhir abad ke 15) Biasanya disebut candi Sebagian besar Candi-candi itu tidak diketahui nama aslinya candi-candi memang harus ditemukan dahulu, sebelum dimasukan kedalam khasanah pusaka budaya kita. Juga Banyak Candi-candi yang diberi nama menurut candinya. Hanya satu dua Candi sajalah yang masih tetap menyimpan nama aslinya.
Candi Borobudur sendiri sulitlah ditentukan apakah nama Borobudur mengambil dari nama dari candi tersebut. Dari Abad (Kitap Sejarah Jawa) dari abad ke 18 tersebut “BUKIT BOROBUDUR” sedang keterangan yang disampaikan kepada Raffles (Lethnan Gubernur Jendral Inggris) dalam tahun 1814 didesa bumi segoro menyatakan bahwa adanya sebuah penemuan penemuan purbakala bernama “BOROBUDUR” dengan penemuan itu maka disimpulkan bahwa nama Borobudur adalah nama asli dari candi tersebut.
Walau demikian perlu dicatat bahwa tidak ada suatu keterangan  baik perasasti maupun dokumen lain yang mengungkapkan nama Candi Borobudur yang sesungguhnya Naskah dari tahun 1365 masehi yaitu kitap Negara kertagama karangan Mpu Prapanca juga Menyebut kata atau nama budur untuk sebuah bangunan agama budha aliran WARJRADHA. Kemungkinan yang ada “BUDUR” tersebut tidak lain adalah Candi Borobudur. Karena tidak adanya keterangan yang lain kiranya tidak bisa diambil suatu kepastian.
Penafsiran Borobudur telah pula di lakukan oleh Raffles berdasarkan keterangan yang ia kumpulkan dari masyarakat luas. Budur merupakan bentuk lain dari boro jaman kuno, jelas tidak mengandung suatu pengertian yang dapat dikaitkan dengan Candi Borobudur. Maka Raffles menampilkan keterangan yang lain yakni Boro berarti Agung dan Budur disamakan dengan Budha. Maka dengan demikian Borobudur berarti sang Budha yang agung. Namun karena Bhara dalam bahasa jawa kuno dapat diartikan banyak maka Borobudur dapat pula berarti Budha yang banyak. Jika dikaji dengan teliti maka keterangan yang ditemukan Raffles memang tidak ada yang memuaskan ”Boro jaman kuno” kurang mengena,” Sang Budha yang Agung ”maupun” Budha yang banyak kurang”.
Mencapai sasaran perubahan kata Budha menjadi “BUDUR” misalnya perubahan demikian dapat diterangkan dari segi ilmu bahasa. Karena sukar diterima inilah sebabnya maka banyak bahasa lain untuk member tafsiran pada Candi Borobudur dengan tepat Bapak Poerbatjaraka (Almarhum) menafsirkan dengan sangat masuk akal menurut beliau perkataan Boro itu Biara, dengan demikian maka Borobudur berarti Biara Budur. Keterangan Poerbatjaraka ini memang sangat menarik. Penyelidikan dan panggilan yang dilakukan tahun 1952 di halaman sebelah barat laut bangun Candi Borobudur telah berhasil menemukan fondasi batu bara dan genta perunggu berukuran besar. Dihubungkan dengan kenyataan yang ada pada kitab Negara kertagama mengenai nama ”BUDUR” maka besar  kemungkinan tafsiran Poerbatjaraka tepat.
Namun demikian masih merupakan suatu pertanyaan mengapa biara dalam hal penanaman menggantikan candinya padahal candi lebih penting dari pada Biaranya. De Casparis berhasil menemukan kata menjemuk dalam prasasti yang kemungkinan merupakan asal perkataan “Borobudur”. Prasasti yang berangka tahun 842 Masehi dijumpai perkataan Bhumi Sambhara Budhura sebutan untuk Bangunan suci nenek moyang. Penelitian yang mendalam tentang keagamaan yang terungkap dalam perasasti dan juga kontruksi yang sangat teliti terhadap Geografi daerah terjadinya peristiwa yang bertahan dengan prasasti tersebut maka De Casparis menyimpulkan bahwa Bhumi Sumbhara Budhura tidak lain adalah Borobudur.
Perubahan kata Bhumi Sumbhara menjadi Borobudur dapat diterangkan akibat gejala umum dalam bahasa sehari-hari untuk menyingkat atau Menyederhanakan Ucapan. Sampai sekarang banyak sarjana yang keberatan terhadapan tafsiran De Casparis itu tapi haruslah di akui bahwa sampai sekarang belum ada keterangan atau tafsiran yang tepat mengenai Nama Borobudur (Dr.Soekmono, Pustaka Jaya 1981, Hal 39, 40, 41)
Drs. Soedirman dalam bukunya Borobudur Salah satu keajaiban dunia menjelaskan mengenai Arti Nama Candi Borobudur sampai sekarang belum jelas namun juga ditulis juga bahwa nama Borobudur berasal dari Bahasa Sanskerta Vihara yang berarti kompleks candi dan bihara atau asrama Budur dalam bahasa Bali Beduhur yang berarti diatas. Jadi nama Borobudur berarti asrama atau Vihara atau kelompok candi yang terletak diatas tanah atau bukit Borobudur salah satu keajaiban dunia dan candi Borobudur tidak hanya diperindah dengan Relief dan ukiran hias tetapi juga dapat dibanggakan karena patung-patungnya yang sangat tinggi mutu seninya patung-patung itu semua menggambarkan Dhyani Budha terdapat pada bagian Rupadhatu dan Arupadhatu.
Patung-patung Budha di rupadhatu di tempatkan dalam Relung-relung yang tersusun berjajar pada sisi luar pagar kangkan sesuai dengan kenyataan bahwa tinggkatan-tingkatan bangunannya semakin tinggi letaknya semakin kecil Ukurannya. Sekilas Patung-patung Budha Nampak serupa semuannya, tetapi sesungguhnya ada juga perbedaannya. Perbedaan yang sangat jelas ialah sikap tangan yang disebut Mudra yang merupakan ciri khas untuk setiap patung.
Sikap tangan atau Mudhura Candi Borobudur ada 6 macam hanya sajalah oleh karena kedua macam mudra yang memiliki oleh patung yang menghadap semua arah baik dibagian Rupadhatu maupun bagian Arupadhatu pada umumnya menggambarkan maksud yang sama. Maka jumlah Mudra yang pokok ada 5 yaitu:
  1. Bhumispara Mudra
  2. Wara Mudra
  3. Dyana Mudra
  4. Abhaya Mudra
  5. Dharma Cakra Mudra
(Madhori, Candi Borobudur Sepanjang masa. hal 12-14)

D.         PENYELAMATAN CANDI BOROBUDUR
Karena keadaan Borobudur kian memburuk pada tahun 1900 dibentuklah suatu panitia khusus,diketahui Dr. J.L.A. Berandes meninggal tahun 1905 namun laporan bersama yang disusunnya tahun 1902 membuahkan rangsangan  Pamugaran. Tahun 1907 di mulai pamugaran besar-besaran yang pertama kali dan dipimpin oleh Van Erp. Pekerjaan ini berlangsung selama empat tahun sampai tahun 1911 dengan biaya sekitar 100.000 gulden dan sepersepuluhnya yang digunakan untuk pemotrettan.
Pada tahun 1926 diadakan pengamatan diketahui adanya pengerusakan sengaja yang dilakukan oleh wisatawan asing yang rupanya ingin memiliki tanda mata dari Candi Borobudur. Kemudian pada tahun 1929 dibentuklah panitia khusus untuk mengadakan penelitian terhadap batu dan relief. Penelitian panitia menyimpulkan ada 3 macam kerusakan yang masing-masing disebabkan oleh :
1.         Korosi, yang disebabkan oleh pengaruh iklim.
2.     Kerja Mekanis, yang disebabkan oleh tangan manusia atau kekuatan lain yang datang dari luar.
3.     Kekuatan tekanan, kerusakan karena tekanan atau tekanan batu-batu berupa retak-retak, bahkan pecah.
Usaha penyelamatan berikutnya dilakukan pada tahun 1963 pemerintah Republik Indonesia dengan menyediakan dana yang cukup besar. Namun usaha ini terhenti dengan adanya pemberontakan G-30-S/PKI.
Pada tahun 1968 pemerintah Republik Indonesia membentuk panitia Nasional untuk membantu melaksanakan pamugaran Candi Borobudur. Pada tahun 1969 Presiden membubarkan panitia Nasional dan membebankan tugasnya kepada menteri perhubungan bahwa rencana pemugaran Candi Borobudur menjadi proyek dalam Repelita. Pada tahun 1970 atas perkasaan UNESCO diadakan diskusi panel di Yogyakarta untuk membahas rencana Pembugaran.
Kemudian pada tanggal 10 Agustus 1973 Presiden Soeharto meresmikan pemugaran Candi Borobudur. Persiapan pemugaran memakan waktu semalam 2 tahun dan kegiatan fisiknya yaitu dimulainya pembongkaran batu-batu candi mulai tahun 1975. Dengan menggerakan lebih 600 pekerja serta batu sebanyak satu juta buah. Bangunan Candi yang dipugar adalah bagian Rupadhatu yaitu 4 tingkat dari bawah yang berbentuk Bujur sangkar.
Kegiatan ini memakan waktu 10 tahun dan pada tanggal 23 Febuari 1983 pemugaran Candi Borobudur dinyatakan selesai dengan diresmikan oleh Presiden Soeharto dengan ditandai penandatanganan Prasasti. Prasasti tersebut tertuliskan :
Pada bagian yang menghadap ke Utara : “Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa pemugaran Candi Borobudur diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia”. Soeharto, Borobudur, 23 Febuari 1983.
Stupa
stupaa.jpg








BAB  III
SIMPULAN DAN SARAN

A.              SIMPULAN

A.              SEJARAH CANDI BOROBUDUR
Candi Borobudur terletak di Desa Candi Borobudur, Kecamatan Candi Borobudur, Kabupaten Magelang Jawa Tengah  dan di kelilingi beberapa dusun antara lain Bumi Segoro, Sabreng, Gopala, Jawahan, Barepan, Ngakarak, Kelan, Janan dan Gendingan.
Pada Zaman Dahulu pulau jawa terapung-apung ditengah lautan oleh karena harus dipaku pada pusat bumi agar dapat dihuni manusia. Paku yang sangat besar itu kini menjadi sebuah gunung yang terletak di Kota Magelang yaitu Gunung Tidar. Disebelah Selatan Gunung Tidar Kira-kira jarak 15 Km terdapat Candi Borobudur yang terletak di daratan Kedu hamper seluruhnya dilingkari Penggunungan di sebelah Timur terdapat Gunung Merapi itu setiap 2 atau 3 Tahun terdengar letusan-letusan yang menandakan masih aktif dalam kegiatannya. Sisi Barat Laut terdapat Gunung Sumbing dan Sendoro. Juga di sebelah Selatan yang membujur dari Timur ke Barat terdapat Penggunungan Menoreh oleh karna itu puncak-puncak Penggunungan ini banyak yang runcing bagai menara maka penggunungan ini dinamakan penggunungan Menoreh.
Dilihat dari Candi Borobudur puncak-puncak penggunungan menorah serupa dengan seorang yang sedang terlentang diatas penggunungan tersebut. Karna itulah ada cerita rakyat yang menjelaskan bahwa bagian dari puncak penggunungan yang serupa dengan orang tidur itu adalah Gunadharma, yaitu ahli bangunan yang berhasil membuat Candi Borobudur.

B.              BENTUK-BENTUK CANDI BOROBUDUR

Adapun tingkatan-tingkatan itu pada dasarnya dapat pula diterapkan pembagian alam semesta menjadi 3 Dunia sebagai berikut :

Dunia Paling Bawah
Kamadhatu : Atau dunia Hasrat. Dalam tindakan ini manusia masih terikat pada hasrat.Relief ini terdapat pada kaki Candi Bangunan Asli.

Dunia Yang Paling Tinggi
Rupadhatu : Atau dunia Rupa. Manusia telah meninggalkan segala Hasratnya tetapi masih terikat pada nama dan rupa. Bagian ini terdapat pada  langkah 1 sampai 5.

Dunia Yang Tinggi
Arupadhatu : Atau dunia tanpa rupa, dalam tindakan ini sudah tidak ada sama sekali nama ataupun Rupa. Manusia telah bebas sama sekali dan telah memutuskan untuk selama lamanya segala ikatan kepada dunia Fana.

C.              ARTI NAMA CANDI BOROBUDUR

Candi Borobudur sendiri sulitlah ditentukanapakah Nama Borobudur mengambil dari nama dari candi tersebut. Dari Abad (Kitap Sejarah Jawa) dari abad ke 18 tersebut “BUKIT BOROBUDUR” sedang keterangan yang disampaikan kepada Raffles (Letnan Gubernur Jendral Inggris) dalam tahun 1814 didesa bumi segoro menyatakan bahwa adanya sebuah penemuan penemuan purbakala bernama “BOROBUDUR” dengan penemuan itu maka disimpulkan bahwa Nama Borobudur adalah nama asli dari candi tersebut.

D.         PENYELAMATAN CANDI BOROBUDUR

Karena keadaan Borobudur kian memburuk pada tahun 1900 dibentuklah suatu panitia khusus,diketahui Dr .J.L.A. Berandes meninggal tahun 1905 namun laporan bersama yang disusunnya tahun 1902 membuahkan rangsangan  Pamugaran. Tahun 1907 di mulai pamugaran besar-besaran yang pertama kali dan dipimpin oleh Van Erp. Pekerjaan ini berlangsung selama empat tahun sampai tahun 1911 dengan biaya sekitar 100.000 gulden dan sepersepuluhnya yang digunakan untuk pemotrettan.
Pada tahun 1926 diadakan pengamatan diketahui adanya pengerusakan sengaja yang dilakukan oleh wisatawan asing yang rupanya ingin memiliki tanda mata dari Candi Borobudur. Kemudian pada tahun 1929 dibentuklah panitia khusus untuk mengadakan penelitian terhadap batu dan relief. Penelitian panitia menyimpulkan ada 3 macam kerusakan yang masing-masing disebabkan oleh :
1.                     Korosi, yang disebabkan oleh pengaruh iklim.
2.     Kerja Mekanis, yang disebabkan oleh tangan manusia atau kekuatan lain yang datang dari luar.
3.     Kekuatan tekanan, kerusakan karena tekanan atau tekanan batu-batu berupa retak-retak, bahkan pecah.


B.              SARAN
Dalam Pembuatan karya tulis ini , penulis tidak mendapat masalah dari metode pengumpulan data hingga peroses pengetikan karya tulis ini, Penulis dapat menyelesaikannya dengan lancar.
Demikian Karya tulis ini dibuat semoga bermanfaat bagi pembaca, penulis menerima Kritik dan Saran dari pembaca demi kesempurnaan karya tulis yang akan datang.


DAFTAR PUSTAKA

Madhori. Candi Borobudur Sepanjang Masa. Yogyakarta
                                                                                                                                                

Tidak ada komentar:

Posting Komentar