BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG MASALAH
Candi Borobudur terletak di Desa Candi Borobudur, Kecamatan
Candi Borobudur, Kabupaten Magelang Jawa Tengah
dan di kelilingi beberapa dusun antara lain Bumi Segoro, Sabreng, Gopala,
Jawahan, Barepan, Ngakarak, Kelan, Janan dan Gendingan.
Pada zaman dahulu pulau Jawa terapung-apung ditengah
lautan oleh karena harus dipaku pada pusat bumi agar dapat dihuni manusia. Paku
yang sangat besar itu kini menjadi sebuah gunung yang terletak di Kota Magelang
yaitu Gunung Tidar. Disebelah Selatan Gunung Tidar Kira-kira jarak 15 Km
terdapat Candi Borobudur yang terletak di daratan Kedu hampir seluruhnya
dilingkari Penggunungan di sebelah Timur terdapat Gunung Merapi itu setiap 2
atau 3 Tahun terdengar letusan-letusan yang menandakan masih aktif dalam
kegiatannya. Sisi Barat Laut terdapat Gunung Sumbing dan Sendoro. Juga di
sebelah Selatan yang membujur dari Timur ke Barat terdapat Penggunungan Menoreh
oleh karna itu puncak-puncak penggunungan ini banyak yang runcing bagai menara maka
penggunungan ini dinamakan penggunungan Menoreh.
Candi Borobudur tidak mempunyai bilik ataupun ruangan
didalamnya oleh karena itu tidak dapat berfungsi sepenuhnya sebagai Candi. Maka
lebih tepatnya kiranya kalau bangunan itu dianggap sebagai bangunan ziarah dan
bukan sebagai tempat pemujaan. Sesungguhnyalah ada jejang–jejang dan lorong-lorong
dimaksudkan sebagai pengantar serta pemandu para peziarah untuk menuju ke
puncak melalui jalan keliling dari satu tingkat ketingkat berikutnya.
Bangunan-Bangunan
kuno yang berasal dari jaman purba sejarah Indonesia (Permulaan tarik Masehi
sampai akhir abad ke 15) Biasanya disebut Candi Sebagian besar Candi-candi itu
tidak diketahui nama aslinya Candi-candi
memang harus ditemukan dahulu, sebelum dimasukan kedalam khasanah pusaka budaya
kita. Juga Banyak Candi-candi yang diberi nama menurut candinya. Hanya satu dua
Candi sajalah yang masih tetap menyimpan nama aslinya.
B.
PEMBATASAN MASALAH
Pada
Pembatasan Masalah kali ini ada 3 hal yang akan penulis uraikan antara lain :
1.
Sejarah Candi
Borobudur
2.
Bentuk Bentuk Candi
Borobudur
3.
Arti Nama Candi
Borobudur
4.
Penyelamatan Candi
Borobudur
C.
METODE PENGUMPULAN DATA
Untuk Metode Pengumpulan data Penulis melakukan
pengamatan secara langsung terhadap objek tersebut. Dan Membeli buku sejarah
Candi Borobudur di Perpustakaan Candi Borobudur.
BAB II
PENGURAIAN
A.
SEJARAH CANDI BOROBUDUR
Candi Borobudur terletak di Desa Candi Borobudur, kecamatan
Candi Borobudur, kabupaten Magelang Jawa Tengah
dan di kelilingi beberapa dusun antara lain Bumi Segoro, Sabreng, Gopala,
Jawahan, Barepan, Ngakarak, Kelan, Janan dan Gendingan.
Pada Zaman Dahulu pulau jawa terapung-apung ditengah
lautan oleh karena harus dipaku pada pusat bumi agar dapat dihuni manusia. Paku
yang sangat besar itu kini menjadi sebuah Gunung yang terletak di Kota Magelang
yaitu Gunung Tidar. Disebelah Selatan Gunung Tidar Kira-kira jarak 15 Km
terdapat Candi Borobudur yang terletak di daratan Kedu hampir seluruhnya
dilingkari Penggunungan di sebelah Timur terdapat Gunung Merapi itu setiap 2
atau 3 Tahun terdengar letusan-letusan yang menandakan masih aktif dalam
kegiatannya. Sisi Barat Laut terdapat Gunung Sumbing dan Sendoro. Juga di
sebelah Selatan yang membujur dari Timur ke Barat terdapat Penggunungan Menoreh
oleh karna itu puncak-puncak Penggunungan ini banyak yang runcing bagai menara
maka penggunungan ini dinamakan penggunungan Menoreh.
Dilihat dari Candi Borobudur puncak-puncak penggunungan
menorah serupa dengan seorang yang sedang terlentang diatas penggunungan
tersebut. Karna itulah ada cerita rakyat yang menjelaskan bahwa bagian dari
puncak penggunungan yang serupa dengan orang tidur itu adalah Gunadharma, yaitu
ahli bangunan yang berhasil membuat Candi Borobudur. Dataran Kedu dialiri oleh dua sungai besar yaitu sungai
Progo dan sungai elo yang akhirnya menyatu menjadi sungai Progo dan mengalir
keselatan menuju Samudra Hindia.
(Dr. Soekmono, Pustaka Jaya 1981)
Sampai
sekarang belum pernah ditemukan sumber-sumber tertulis yang menyebut bila nama
Candi Borobudur itu dibangun senhingga secara pasti tidak dapat ditentukan
usianya. Beberapa bukti telah ditemukan oleh para ahli untuk menentukan usia
dari Bangunan Candi Borobudur itu pada bagian kaki Candi Borobudur yang
tertutup terdapat tulisan singkat berbahasa sanskerta dengan huruf Kawi. Dengan
membandingkan bentuk huruf-huruf tersebut dengan perasasti-perasasti bertarik
yang ada di Indonesia.
Maka
sementara sarjana berpendapat bahwa candi Borobudur dibangun sekitar tahun 800
Masehi.Pada abad itu di Jawa Tengah berkuasa Raja-raja dari Wangsa Syailendra
yang menganut agama Budha Mahayana sehingga dapatlah dikatakan bahwa Borobudur
bersifat agama budha Mahayana itu ada hubungannya dengan Syailendra.

B.
BENTUK-BENTUK CANDI BOROBUDUR
Candi Borobudur tidak mempunyai bilik ataupun ruangan
didalamnya oleh karena itu tidak dapat berfungsi sepenuhnya sebagai Candi. Maka
lebih tepatnya kiranya kalau bangunan itu dianggap sebagai bangunan ziarah dan
bukan sebagai tempat pemujaan.Sesungguhnyalah ada jejang –jejang dan
lorong-lorong dimaksudkan sebagai pengantar serta pemandu para perziarah untuk
menuju ke puncak melalui jalan keliling dari satu tingkat ketingkat berikutnya.
Perjalanan setingkat demi setingkat sesuai dengan aliran
Budha yang memang sangat mementingkan adanya tingkatan dalam persiapan mental
para penganutnya yang setia. Melalui Tingkatan-tingkatan itulah tujuan akhir
perjalanan manusia dapat tercapai yaitu terlepasnya secara mutlak dari segi
ikatan duniawi dan dapat bebas secara mutlak dari kelahiran kembali.
Adapun tingkatan-tingkatan itu pada dasarnya dapat pula
diterapkan pembagian alam semesta menjadi 3 Dunia sebagai berikut :
Dunia Paling Bawah
Kamadhatu : Atau dunia Hasrat. Dalam tindakan ini manusia
masih terikat pada hasrat.Relief ini terdapat pada kaki Candi Bangunan Asli.
Dunia Yang Paling Tinggi
Rupadhatu : Atau dunia Rupa. Manusia telah meninggalkan
segala Hasratnya tetapi masih terikat pada nama dan rupa. Bagian ini terdapat
pada langkah 1 sampai 5.
Dunia Yang Tinggi
Arupadhatu : Atau dunia tanpa rupa,dalam tindakan ini
sudah tidak ada sama sekali nama ataupun Rupa. Manusia telah bebas sama sekali
dan telah memutuskan untuk selama lamanya segala ikatan kepada dunia Fana.
Bangunan
Candi Borobudur berbentuk limas berundak dan apabila dilihat dari atas
merupakan bujur sangkar. Bangunan Candi Borobudur ada 10 tingkat 3 tingkat yang
paling atas berbentuk lingkaran dengan 3 teras :
-
Teras Pertama
terdapat : 32
Setupa Berlubang
-
Teras Kedua terdapat
: 24 Setupa Berlubang
-
Teras Ketiga
terdapat : 16 Setupa Berlubang
-
Jumlah Keseluruhan : 72 Setupa Berlubang
Masing-masing
setupa terdapat patung Budha ditengah-tengah setupa tersebut terdapat setupa
induk yang merupakan mahkota dari bangunan Candi Borobudur. Stupa induk
bergaris tengah 9,90 meter tinggi sampai bagian bawah pinakel 7 meter Drs.
Sudirman dalam bukunya Borobudur Salah Satu Keajaiban dunia, menulis bahwa
diatas puncak pinakelnya dahulu diberi (Catta) bertingkat 3 (Sekarang tidak ada
lagi).
Stupa induk
ini tertutup rapat sehingga orang tidak dapat melihat didalamnya. Didalamnya
terdapat kamar (Ruangan) yang sekarang tidak berisi. Ada yang mengatakan bahwa
ruangan itu untuk tempat menyimpan arca/relief, tapi pendapat itu masih
diragukan kebenarannya karena sewaktu diadakan penyelidikan mengenai isi dari
setupa induk oleh residen Kedu Hartman dalam tahun 1842 sama sekali tidak
dibuat laporan tertulis sehingga semua pendapat mengenai isi setupa induk itu
hanya dugaan belaka. Lebar dan Panjang Candi Borobudur 123 Meter.
Keliling Candi Borobudur
: 492 Meter
Tinggi Candi Borobudur
: 34, 5 Meter
Batu Andesit yang digunakan untuk bangunan Candi
Borobudur Sebanyak 55.000 m

C.
ARTI NAMA CANDI BOROBUDUR
Bangunan-Bangunan
kuno yang berasal dari jaman purba sejarah Indonesia (Permulaan tarikh Masehi
sampai akhir abad ke 15) Biasanya disebut candi Sebagian besar Candi-candi itu
tidak diketahui nama aslinya candi-candi memang harus ditemukan dahulu, sebelum
dimasukan kedalam khasanah pusaka budaya kita. Juga Banyak Candi-candi yang diberi
nama menurut candinya. Hanya satu dua Candi sajalah yang masih tetap menyimpan
nama aslinya.
Candi
Borobudur sendiri sulitlah ditentukan apakah nama Borobudur mengambil dari nama
dari candi tersebut. Dari Abad (Kitap Sejarah Jawa) dari abad ke 18 tersebut
“BUKIT BOROBUDUR” sedang keterangan yang disampaikan kepada Raffles (Lethnan
Gubernur Jendral Inggris) dalam tahun 1814 didesa bumi segoro menyatakan bahwa
adanya sebuah penemuan penemuan purbakala bernama “BOROBUDUR” dengan penemuan
itu maka disimpulkan bahwa nama Borobudur adalah nama asli dari candi tersebut.
Walau
demikian perlu dicatat bahwa tidak ada suatu keterangan baik perasasti maupun dokumen lain yang
mengungkapkan nama Candi Borobudur yang sesungguhnya Naskah dari tahun 1365
masehi yaitu kitap Negara kertagama karangan Mpu Prapanca juga Menyebut kata
atau nama budur untuk sebuah bangunan agama budha aliran WARJRADHA. Kemungkinan
yang ada “BUDUR” tersebut tidak lain adalah Candi Borobudur. Karena tidak
adanya keterangan yang lain kiranya tidak bisa diambil suatu kepastian.
Penafsiran
Borobudur telah pula di lakukan oleh Raffles berdasarkan keterangan yang ia
kumpulkan dari masyarakat luas. Budur merupakan bentuk lain dari boro jaman
kuno, jelas tidak mengandung suatu pengertian yang dapat dikaitkan dengan Candi
Borobudur. Maka Raffles menampilkan keterangan yang lain yakni Boro berarti
Agung dan Budur disamakan dengan Budha. Maka dengan demikian Borobudur berarti
sang Budha yang agung. Namun karena Bhara dalam bahasa jawa kuno dapat diartikan
banyak maka Borobudur dapat pula berarti Budha yang banyak. Jika dikaji dengan
teliti maka keterangan yang ditemukan Raffles memang tidak ada yang memuaskan ”Boro
jaman kuno” kurang mengena,” Sang Budha yang Agung ”maupun” Budha yang banyak
kurang”.
Mencapai
sasaran perubahan kata Budha menjadi “BUDUR” misalnya perubahan demikian dapat
diterangkan dari segi ilmu bahasa. Karena sukar diterima inilah sebabnya maka
banyak bahasa lain untuk member tafsiran pada Candi Borobudur dengan tepat
Bapak Poerbatjaraka (Almarhum) menafsirkan dengan sangat masuk akal menurut
beliau perkataan Boro itu Biara, dengan demikian maka Borobudur berarti Biara
Budur. Keterangan Poerbatjaraka ini memang sangat menarik. Penyelidikan dan panggilan
yang dilakukan tahun 1952 di halaman sebelah barat laut bangun Candi Borobudur telah
berhasil menemukan fondasi batu bara dan genta perunggu berukuran besar.
Dihubungkan dengan kenyataan yang ada pada kitab Negara kertagama mengenai nama
”BUDUR” maka besar kemungkinan tafsiran
Poerbatjaraka tepat.
Namun
demikian masih merupakan suatu pertanyaan mengapa biara dalam hal penanaman
menggantikan candinya padahal candi lebih penting dari pada Biaranya. De
Casparis berhasil menemukan kata menjemuk dalam prasasti yang kemungkinan
merupakan asal perkataan “Borobudur”. Prasasti yang berangka tahun 842 Masehi
dijumpai perkataan Bhumi Sambhara Budhura sebutan untuk Bangunan suci nenek
moyang. Penelitian yang mendalam tentang keagamaan yang terungkap dalam
perasasti dan juga kontruksi yang sangat teliti terhadap Geografi daerah
terjadinya peristiwa yang bertahan dengan prasasti tersebut maka De Casparis
menyimpulkan bahwa Bhumi Sumbhara Budhura tidak lain adalah Borobudur.
Perubahan
kata Bhumi Sumbhara menjadi Borobudur dapat diterangkan akibat gejala umum
dalam bahasa sehari-hari untuk menyingkat atau Menyederhanakan Ucapan. Sampai
sekarang banyak sarjana yang keberatan terhadapan tafsiran De Casparis itu tapi
haruslah di akui bahwa sampai sekarang belum ada keterangan atau tafsiran yang
tepat mengenai Nama Borobudur (Dr.Soekmono, Pustaka Jaya 1981, Hal 39, 40, 41)
Drs.
Soedirman dalam bukunya Borobudur Salah satu keajaiban dunia menjelaskan
mengenai Arti Nama Candi Borobudur sampai sekarang belum jelas namun juga
ditulis juga bahwa nama Borobudur berasal dari Bahasa Sanskerta Vihara yang
berarti kompleks candi dan bihara atau asrama Budur dalam bahasa Bali Beduhur
yang berarti diatas. Jadi nama Borobudur berarti asrama atau Vihara atau
kelompok candi yang terletak diatas tanah atau bukit Borobudur salah satu
keajaiban dunia dan candi Borobudur tidak hanya diperindah dengan Relief dan
ukiran hias tetapi juga dapat dibanggakan karena patung-patungnya yang sangat
tinggi mutu seninya patung-patung itu semua menggambarkan Dhyani Budha terdapat
pada bagian Rupadhatu dan Arupadhatu.
Patung-patung
Budha di rupadhatu di tempatkan dalam Relung-relung yang tersusun berjajar pada
sisi luar pagar kangkan sesuai dengan kenyataan bahwa tinggkatan-tingkatan
bangunannya semakin tinggi letaknya semakin kecil Ukurannya. Sekilas
Patung-patung Budha Nampak serupa semuannya, tetapi sesungguhnya ada juga
perbedaannya. Perbedaan yang sangat jelas ialah sikap tangan yang disebut Mudra
yang merupakan ciri khas untuk setiap patung.
Sikap tangan
atau Mudhura Candi Borobudur ada 6 macam hanya sajalah oleh karena kedua macam
mudra yang memiliki oleh patung yang menghadap semua arah baik dibagian
Rupadhatu maupun bagian Arupadhatu pada umumnya menggambarkan maksud yang sama.
Maka jumlah Mudra yang pokok ada 5 yaitu:
- Bhumispara Mudra
- Wara Mudra
- Dyana Mudra
- Abhaya Mudra
- Dharma Cakra Mudra
(Madhori, Candi Borobudur Sepanjang masa. hal 12-14)
D.
PENYELAMATAN CANDI BOROBUDUR
Karena keadaan Borobudur kian memburuk pada tahun 1900
dibentuklah suatu panitia khusus,diketahui Dr. J.L.A. Berandes meninggal tahun
1905 namun laporan bersama yang disusunnya tahun 1902 membuahkan
rangsangan Pamugaran. Tahun 1907 di
mulai pamugaran besar-besaran yang pertama kali dan dipimpin oleh Van Erp. Pekerjaan
ini berlangsung selama empat tahun sampai tahun 1911 dengan biaya sekitar
100.000 gulden dan sepersepuluhnya yang digunakan untuk pemotrettan.
Pada tahun 1926 diadakan pengamatan diketahui adanya
pengerusakan sengaja yang dilakukan oleh wisatawan asing yang rupanya ingin
memiliki tanda mata dari Candi Borobudur. Kemudian pada tahun 1929 dibentuklah
panitia khusus untuk mengadakan penelitian terhadap batu dan relief. Penelitian
panitia menyimpulkan ada 3 macam kerusakan yang masing-masing disebabkan oleh :
1.
Korosi, yang
disebabkan oleh pengaruh iklim.
2.
Kerja Mekanis, yang
disebabkan oleh tangan manusia atau kekuatan lain yang datang dari luar.
3.
Kekuatan tekanan, kerusakan
karena tekanan atau tekanan batu-batu berupa retak-retak, bahkan pecah.
Usaha penyelamatan berikutnya dilakukan pada tahun 1963
pemerintah Republik Indonesia dengan menyediakan dana yang cukup besar. Namun
usaha ini terhenti dengan adanya pemberontakan G-30-S/PKI.
Pada tahun 1968 pemerintah Republik Indonesia membentuk
panitia Nasional untuk membantu melaksanakan pamugaran Candi Borobudur. Pada
tahun 1969 Presiden membubarkan panitia Nasional dan membebankan tugasnya
kepada menteri perhubungan bahwa rencana pemugaran Candi Borobudur menjadi
proyek dalam Repelita. Pada tahun 1970 atas perkasaan UNESCO diadakan diskusi
panel di Yogyakarta untuk membahas rencana Pembugaran.
Kemudian pada tanggal 10 Agustus 1973 Presiden Soeharto
meresmikan pemugaran Candi Borobudur. Persiapan pemugaran memakan waktu semalam
2 tahun dan kegiatan fisiknya yaitu dimulainya pembongkaran batu-batu candi
mulai tahun 1975. Dengan menggerakan lebih 600 pekerja serta batu sebanyak satu
juta buah. Bangunan Candi yang dipugar adalah bagian Rupadhatu yaitu 4 tingkat
dari bawah yang berbentuk Bujur sangkar.
Kegiatan ini memakan waktu 10 tahun dan pada tanggal 23
Febuari 1983 pemugaran Candi Borobudur dinyatakan selesai dengan diresmikan
oleh Presiden Soeharto dengan ditandai penandatanganan Prasasti. Prasasti
tersebut tertuliskan :
Pada bagian yang menghadap ke Utara : “Dengan Rahmat
Tuhan Yang Maha Esa pemugaran Candi Borobudur diresmikan oleh Presiden Republik
Indonesia”. Soeharto, Borobudur, 23 Febuari 1983.
![]() |
| Stupa |

BAB III
SIMPULAN DAN SARAN
A.
SIMPULAN
A.
SEJARAH CANDI BOROBUDUR
Candi Borobudur terletak di Desa Candi Borobudur, Kecamatan
Candi Borobudur, Kabupaten Magelang Jawa Tengah
dan di kelilingi beberapa dusun antara lain Bumi Segoro, Sabreng, Gopala,
Jawahan, Barepan, Ngakarak, Kelan, Janan dan Gendingan.
Pada Zaman Dahulu pulau jawa terapung-apung ditengah
lautan oleh karena harus dipaku pada pusat bumi agar dapat dihuni manusia. Paku
yang sangat besar itu kini menjadi sebuah gunung yang terletak di Kota Magelang
yaitu Gunung Tidar. Disebelah Selatan Gunung Tidar Kira-kira jarak 15 Km terdapat
Candi Borobudur yang terletak di daratan Kedu hamper seluruhnya dilingkari
Penggunungan di sebelah Timur terdapat Gunung Merapi itu setiap 2 atau 3 Tahun
terdengar letusan-letusan yang menandakan masih aktif dalam kegiatannya. Sisi
Barat Laut terdapat Gunung Sumbing dan Sendoro. Juga di sebelah Selatan yang
membujur dari Timur ke Barat terdapat Penggunungan Menoreh oleh karna itu
puncak-puncak Penggunungan ini banyak yang runcing bagai menara maka
penggunungan ini dinamakan penggunungan Menoreh.
Dilihat dari
Candi Borobudur puncak-puncak penggunungan menorah serupa dengan seorang yang
sedang terlentang diatas penggunungan tersebut. Karna itulah ada cerita rakyat
yang menjelaskan bahwa bagian dari puncak penggunungan yang serupa dengan orang
tidur itu adalah Gunadharma, yaitu ahli bangunan yang berhasil membuat Candi
Borobudur.
B.
BENTUK-BENTUK CANDI BOROBUDUR
Adapun tingkatan-tingkatan itu pada dasarnya dapat pula
diterapkan pembagian alam semesta menjadi 3 Dunia sebagai berikut :
Dunia Paling Bawah
Kamadhatu : Atau dunia Hasrat. Dalam tindakan ini manusia
masih terikat pada hasrat.Relief ini terdapat pada kaki Candi Bangunan Asli.
Dunia Yang Paling Tinggi
Rupadhatu : Atau dunia Rupa. Manusia telah meninggalkan
segala Hasratnya tetapi masih terikat pada nama dan rupa. Bagian ini terdapat
pada langkah 1 sampai 5.
Dunia Yang Tinggi
Arupadhatu : Atau dunia tanpa rupa, dalam tindakan ini
sudah tidak ada sama sekali nama ataupun Rupa. Manusia telah bebas sama sekali
dan telah memutuskan untuk selama lamanya segala ikatan kepada dunia Fana.
C.
ARTI NAMA CANDI BOROBUDUR
Candi
Borobudur sendiri sulitlah ditentukanapakah Nama Borobudur mengambil dari nama
dari candi tersebut. Dari Abad (Kitap Sejarah Jawa) dari abad ke 18 tersebut
“BUKIT BOROBUDUR” sedang keterangan yang disampaikan kepada Raffles (Letnan
Gubernur Jendral Inggris) dalam tahun 1814 didesa bumi segoro menyatakan bahwa
adanya sebuah penemuan penemuan purbakala bernama “BOROBUDUR” dengan penemuan
itu maka disimpulkan bahwa Nama Borobudur adalah nama asli dari candi tersebut.
D.
PENYELAMATAN CANDI BOROBUDUR
Karena keadaan Borobudur kian memburuk pada tahun 1900
dibentuklah suatu panitia khusus,diketahui Dr .J.L.A. Berandes meninggal tahun
1905 namun laporan bersama yang disusunnya tahun 1902 membuahkan
rangsangan Pamugaran. Tahun 1907 di
mulai pamugaran besar-besaran yang pertama kali dan dipimpin oleh Van Erp. Pekerjaan
ini berlangsung selama empat tahun sampai tahun 1911 dengan biaya sekitar
100.000 gulden dan sepersepuluhnya yang digunakan untuk pemotrettan.
Pada tahun 1926 diadakan pengamatan diketahui adanya
pengerusakan sengaja yang dilakukan oleh wisatawan asing yang rupanya ingin
memiliki tanda mata dari Candi Borobudur. Kemudian pada tahun 1929 dibentuklah
panitia khusus untuk mengadakan penelitian terhadap batu dan relief. Penelitian
panitia menyimpulkan ada 3 macam kerusakan yang masing-masing disebabkan oleh :
1.
Korosi, yang
disebabkan oleh pengaruh iklim.
2.
Kerja Mekanis, yang
disebabkan oleh tangan manusia atau kekuatan lain yang datang dari luar.
3.
Kekuatan tekanan, kerusakan
karena tekanan atau tekanan batu-batu berupa retak-retak, bahkan pecah.
B.
SARAN
Dalam
Pembuatan karya tulis ini , penulis tidak mendapat masalah dari metode
pengumpulan data hingga peroses pengetikan karya tulis ini, Penulis dapat
menyelesaikannya dengan lancar.
Demikian
Karya tulis ini dibuat semoga bermanfaat bagi pembaca, penulis menerima Kritik
dan Saran dari pembaca demi kesempurnaan karya tulis yang akan datang.
DAFTAR PUSTAKA
Madhori. Candi Borobudur Sepanjang Masa. Yogyakarta


Tidak ada komentar:
Posting Komentar